Kamis, 31 Mei 2007

Aku Tak Ingin Berhenti

Dalam pencarian jati diri, aku tersesat dari jalan yang tengah kutempuh
Namun, secercah sinar datang menuntunku kembali pada jiwa menggapai
Kemudian terperosok dalam sebuah jebakan syetan sang durjana
Ada uluran tangan yang mengangkatku tuk kembali berjalan
Setelah itu langkahku pincang
Ada tongkat yang menopangku
Tiba-tiba pandanganku terkabur dunia
Apa yang kan ku dapat juga?
Tubuh terseok
Langkah tertatih
Lelah merasuki jiwa

Perjalanan terasa semakin sulit
Hati hampir menyerah, langkahpun terhenti
Seseorang menarikku tuk berlari
Aku terjatuh dan terseret
Luka pun bertambah, terasa makin tak kuasa

Rabb...dimana Engkau saat hamba membutuhkanMu?
Saat aku membutuhkan cahayaMu tuk terangi jalanku
Saat aku membutuhkan obat dari lukaku

Aku bangkit utk mencari dan mengajukan interupsi pada-Nya
Namun kemudian aku sadar, aku adalah aku
Dan Ia-lah yang membantuku kembali bangkit

Meski sekadar mengajukan inginku pada-Nya
Jalan masih panjang, meski tubuh dan jiwa terluka, aku harus tetap berjalan
Kemudian seseorang datang memapahku
Sedikit demi sedikit langkahku pun bangkit
Lukapun terobati dengan sendirinya

Dan Ia..kuharap Ia tersenyum bangga padaku

Tahu Ga?!

Tahu ngga klo Allah itu sayang banget sama kita, coz Allah selalu memberi yang terbaik
Tahu ga?! Klo Allah tuh milih kita jadi khalifah, berarti kita punya kelebihan yang ga dimiliki sama orang lain
Tahu ngga?! Allah selalu ngejaga kita, Dia ga pernah tidur, ga pernah lupa dan ga pernah lalai...

Dan yang harus kamu tahu selain semua itu...Allah selalu ngasih apa yang terbaik utk kita, meski kita ga minta. Dan Dia masih mengurus kita meskipun kita ga pernah bersyukur padaNya...karena kita ga bisa hidup tanpa bantuan-Nya.

Senin, 21 Mei 2007

Belajar dari Sepeda

Naik sepeda itu menyenangkan...banyak yang bisa kita pelajari...
Naik sepeda tuh selain sehat, tapi juga capek --semua orang juga tahu-- tapi ada yang menarik dari naik sepeda...t'nyata klo kita mau meluangkan pikiran utk mengambl hikmah ataupun pelajaran dari setiap kejadian, t'masuk bersepeda.

Simple, tp berarti banget buat Sa. Simple dlm artian, memang ga ada unsur harus mikir lama, berarti karena t'nyata pelajaran yg t'sirat, memang bnr2 bisa bikin kita Insya Allah jadi lebih baik.

Setiap kali naik sepeda, Sa selalu b'pikir, seperti inilah perjalanan yg kita hadapi di dunia. Kadang kita melewati turunan, kadang tanjakan. Terkadang kita merasa lelah dalam mengarungi perjalanan ini, karena kita sudah menempuh jarak yang cukup jauh. Tapi satu yang bikin kita tetap bertahan, karena kita punya satu TUJUAN yang kita ingin capai. Mungkin terbersit ingin berhenti di tengah jalan dan menyerah, tapi ingat, tujuan meski belum jauh, tetap harus dicapai, dan yang lebih bikin kita ga bisa menyerah, adalh karena kita ga mungkin kembali ke tempat semula...kembali ke alam ruh...

Seperti halnya kita pergi ke kampus, kita akan kembali ke rumah lagi kan?! Nah seperti itulah hidup, boleh nyari dunia, tapi ingat, kita harus "pulang ke rumah". Disana kita bisa nentuin, apa "oleh-oleh" kita untuk pulang?

Apalagi coba? Klo kita berhenti di tengah jalan, kita yang rugi, antara kita kehilangan kendaraan kita, sepeda karena kita pengen enaknya naik kendaraan lain misal mobil/angkot atau trus2an capek tapi nyampe tujuan?Silahkan pilih aja sendiri.

Jumat, 04 Mei 2007

Belajar Naik Bus

Semenjak kuliah, aku harus selalu menunggu bus untuk sampai ke kampus. Tapi justru dari sinilah aku mendapat banyak pelajaran.
1. Aku harus selalu tepat waktu, karena 5 menit aja aku terlambat, aku akan benar-benar ketinggalan bus. Dan mau tak mau aku harus menunggu bis selanjutnya, yang klo lagi apes, harus nunggu 30 menitan.
2. Aku harus sabar. Klo ngga, ada kemungkinan terus naik mobil, padahal ongkosnya bisa 3-4 kali lipat+waktu yang kita habiskan di perjalanan, akan lebih banyak--angkot kan jalannya muter+ngetem...
3.Harus extra pinter nyari hikmah...biar semua yang kita lalui ga sia-sia...

Kemarin, aku mendapat pelajaran berharga. Saat tinggal sekitar 1/4 perjalanan, bis yang kutumpangi mengalami kerusakan, katanya sih habis bensin--tapi masa sih, biasanya kan ngga--. Nah ada beberapa penumpang yang ga tahu panik atau emang lagi dikejar waktu (ciee...), mereka langsung turun, dan milih naik angkot... Tapi aku bersikeras mau tinggal, ada sih terlintas pengen turun, trus jalan, toh ga terlalu jauh--klo dibandingkan dengan perjalanan dari kampus ke rumah.

Hampir 80% penumpang turun sambil menggerutu. Tapi ada juga yang kebingungan, ada yang tetep di bis, ada juga yang turun. Tersisalah sekitar 10 orang. Setelah sekian lama tak berkabar, ternyata, ada masalah sama bannya, bukan cuma karena habis bensin. Trus, kondektur minta kita untuk turun, dan ga lama ada bis lain lewat, jurusan Cicaheum-Leuwi Panjang. Kita dipindah kesana...
Alhamdulillah...ga jadi jalan, ga jd naek mobil lg...lbh hemat...

Rabu, 02 Mei 2007

Lagi Nyari apa Nih?

Teruntuk semua orang yang sedang mencari Allah... Ternyata Allah itu dekat, asal kita serius untuk mencari...
Dan yang pasti, minta bantuanNya... karena Ia takkan membiarkan hambaNya yang bersungguh-sungguh...

Yakinlah, Ia takkan menyia-nyiakan hambaNya. Yang ga baik aja ditolong, Allah pasti nolong kita...

Senin, 26 Maret 2007

Cinta

Cinta...mengapa kau begitu kejam padaku
Saat ku temukan seorang yang aku ingin bersamanya
dengan alasan cinta kau jauhkan ia dariku

Saat ada yang mencintaiku
dengan alasan cinta ia membohongiku

Karena cinta kini aku tersiksa
Pada perasaan yang harus kubuang jauh-jauh
Karena ia bukan untukku

Cinta...akankah kau warnai hidupku dengan suka
dan kau hiasi dukaku kulewati bersamanya

Akankah kau menghampiriku
Bersama orang yang membawamu padaku
Setulus hati
Karena kehendak dan cinta Tuhannya

Jumat, 02 Maret 2007

Ujung Jalan

Masih Kupandangi ujung jalan itu, ujung jalan yang menjadi kenangan seumur hidupku. Disana, di ujung jalan itu, kudapati sahabatku terakhir kalinya. Sahabat sejati yang tanpa kuduga akan pergi meninggalkanku.

Cukup perih memang, kehilangan ia...bila kuingat saat-saat bersamanya...Perih. Tanpa terasa bulir-bulir benign berjatuhan daripelupuk mataku. Meleleh dan mendarat, hingga akhirnya hilang ditelan bumi... seperti hilangnya sahabatku. Tak mampu lagi kutopang tubuhku, aku terduduk. Cairan merah mengalir cukup deras di lututku, namun rasa perihnya tak dapat mengalahkan perih di hati. Luka ini, luka hatiku ini, rasanya tak dapat terobati. Dengan sekuat tenaga, aku berteriak pada Nya, pada Dia yang katanya Maha Pengasih, tapi membiarkanku kehilangan sahabat.
"Tuhan, orang bilang Engkau selalu membantu hambaMu, lalu mengapa Kauu biarkan sahabatku pergi dari sisiku? Katanya Kau bisa lakukan apapun, lalu mengapa tak Kau hentikan kepergian sahabatku? Kau kejam Tuhan! Kau kejam! Kau pisahkan Ia dariku, di depan mataku Kau renggut ia, disana! Di ujung jalan itu! Ujung jalan yang kini amat ku benci! Aku benci Kau Tuhan!"
Kutatap sang mentari...
"Wahai mentari, Kenapa tak kau lelehkan saja aku?! Agar aku bisa ikuti kemana sahabatku pergi!"
kualihkan pandangan pada kapas-kapas putih di langit...
"Hei awan! bisakah kau kembalikan sahabatku? Menjelmalah kau, gambarkan wajahnya, agar sedikit hilang kerinduanku padanya!"
Angin lembut belaiku
"Angin, sampaikanlah sentuhan hangatku dan pelukanku pada sahabatku disana. Lalu kembalilah kau padaku dengan balasan hangat dari sahabatku."
Sepi. Tak ada suara sedikitpun
"Hei kau ujung jalan! Mengapa kau ambil sahabatku? Aku membutuhkannya, kembalikan ia!Tidakkah kau lihat aku hampir gila. Kembalikan ia, ia satu-satuny yang kumiliki."

Mutiara bening itu kini mengalir deras bak sungai. Aku terisak, Darah tak jua mengering. LUka hati semakin menganga. Senyap.
"Kenapa Tuhan? Kembalilah Sahabat."

"Kau dapat pelukan hangat dari sahabatmu."
Sejenak aku terlena.
"Tidak mungkin! MAna mungkin begitu cepat ia berikan balasan? Mustahil! Tak usah kau dusta, angin!"
"Aku tidak berdusta."
"Kulihat sahabatmu dari sini. Ia datang menemuimu, senyumnya hiasialam, ia bahagia kini, jika kau bahagia dan begitu sebalkiknya. Bukankah begitu?" sahut awan.
Aku termenung, kembali senyap.
"Tapi TUhan tak adil! Ia ambil sahabatku dan aku tak tahu apakah ia bahagia atau tidak. Tuhan kembalikan sahabatku. Kembalikan ia..kembalikan ia..."
Gelap.
"Sahabtku, sadarlah. Aku disini, kawan."
Kubuka mataku perlahan. Samar, tapi suara itu amat kukenal.
"Puji Rabb semesta alam." ujat sahabtku seraya memelukku.
"Kau kembali sobbat? Aku tak percaya, awan, angin, mentari, mereka tidak berdusta padaku."
Kutatap lekat senyum di wajahnya.
"Aku bersamamu, kaupun bersamaku kini..."
"Dan kini aku akan membawamu bersamaku, kawan."